Kamis, 22 Maret 2018

Aku bukan Rahwana


Dalam cerita ini Rangga  adalah Penjahat. Rama adalah pahlawan.

Karena saya percaya bahwa manusia itu punya dua sisi (tidak ada yang sepenuhnya hitam, tidak ada yang sepenuhnya putih), coba sekarang kita melihat dari sisi Rangga atau dari sisi orang lain yang kita tak bisa melihatnya.

Disini akan ku ceritakan tentang Rangga yang mencintai Sefty

Pada tahun 1987, Rangga hanya mencintai satu wanita, Dewi purna sari namanya. Hingga kemudian sang dewi meninggal dan kemudian menitis ke sefty Dewi purna. Rasa di hati Rangga selalu tersimpan utuh. Hingga akhirnya sang waktu mempertemukannya dengan Sifty , yang sayangnya sudah menjadi istri Rama, seorang pemuda atlit petarung yang memenangi sayembara yang di lakukan ayah sefty.

Melihat cinta sejatinya sudah menjadi milik orang lain, Rangga tinggal punya dua pilihan: merelakannya atau merebutnya dengan taruhan apa pun, bahkan nyawa. Dan, Rangga  memilih pilihan kedua.

Sifty  pun diculiknya (bagaaikan kisah sri Rama dan Sinta ) dan dibawa pulang ke daerah paling jauh yang tak dikenal oleh rama. Selama tiga tahun disekap, Sefty diperlakukan bak ratu oleh Rangga Meski dia bisa memaksa atau bahkan memperkosa Sefty, Rangga tak pernah mau melakukannya. Rangga  tahu, cinta sejati tak butuh dipaksa.

Dia pun tak pernah menyentuhnya. Menunggu. Menunggu adalah hal terbaik agar sang dewi tak terluka hatinya. Agar sang dewi mencintainya sepenuh hati. Suatu saat nanti. Entah kapan. Padahal dia tahu benar bahwa titisan Dewi purnama Sari itu terlahir begitu setia pada suaminya.


Setiap hari Ranggamendatangi Sefty dengan beragam puisi. Dia selalu minta maaf karena telah menculiknya. Semua itu dilakukan semata mata karena cinta dan ingin menjadikan Sefty sebagai satu-satunya istri terkasih. Namun, Sefty selalu menolak.

Rangga selalu yakin Apapun yang datang dari hati, pasti sampai ke hati. Sekejam apa pun Rangga ketulusannya pelan-pelan dirasakan oleh Sefty. Selama dirinya di ditahan, Rangga berubah menjadi baik dan murah senyum sehingga mengubah suasana rumah menjadi baik pula dan penuh kedamaian. Sefty mulai tergoda tapi di sisi lain dia tak mau mengkhianati suaminya. Namun, hingga hampir tiga tahun lamanya, kenapa Rama tak kunjung juga menyelamatkannya? Apakah suaminya sudah tak mencintainya lagi?

“Duhai wanita terkasih, kamulah satu-satunya wanita yang terpatri di tulang dan tercetak di jantung. Aku siap mati untukmu,” kata Rangga penuh harap kepada Sefty.
Sefty menjawab, "Jujur. Aku sebenarnya juga mencintaimu. Kamu selalu memperlakukanku dengan baik. Tapi aku juga tak mau menghianati cinta suamiku. Jika kamu mencintaiku, tolong relakanlah aku dan kembalikanlah aku kepada suamiku."

Kata-kata Sefty ibarat mantra yang menyihir Rangga. Sebab, selama hidupnya, hanya kata-kata itulah yang dinanti. “Baik, jika itu maumu, sebagai ksatria, aku akan berduel satu lawan satu dengan Rama. Jika dia bisa mengalahkanku, maka aku akan mengembalikanmu kepadanya,” tegas Rangga.

Ketika Rama datang dengan gagah berani, Rangga menyambutnya dengan kata-kata . “Aku mencintai Sefty, Rama! Aku akan melakukan apa pun untuknya. Aku benar-benar mencintainya, bukan sepertimu yang menikahinya hanya karena berhasil memenangkan sayembara. Semua perbuatanku yang kau sebut ‘mengacau’ sebenarnya adalah usahaku dalam rangka mendapatkan kembali Sefty.


Singkat kata, pertarungan pun terjadilah. Dan Rama berhasil mengalahkan Rangga dan membunuhnya. Sefty yang cantik pun kembali jadi miliknya.
Sefty senang bukan kepalang. Dia lari menghambur ke pelukan Rama. Namun, sambutan Rama justru mengagetkannya. Rama curiga, jangan-jangan Sefty telah dinodai Rangga.

Berkali-kali Sefty menjelaskan bahwa dirinya masih suci. Rangga tidak sekali pun pernah menyentuhnya. Tapi Rama tak juga percaya.

Tinggal kemudian sukma Rangga yang menangis sejadinya karena nestapa cinta. Kenapa takdir tidak memilihnya? Andai dia ikut perlombaan yang diadakan oleh ayah sefty, niscaya Sefty menjadi miliknya. Pasalnya, kesaktian Rama masih jauh di bawahnya. Kenapa pula Sefty memilih pria yang tidak mempercayainya 100 persen? Sementara bagi Rangga, Sefty ternoda atau tidak, dia tetap akan mencintainya.

Sefti tersedu pilu melihat Rangga karna sudah tak ada lagi di dunia yang ditempati nya, tak menghirupkan lagi udara yang di hirupnya..
Sosok yang mencintainya Tampa tapi..

Ya Tuhan ..
Jika cinta ku kepada Sefty terlarang..
Mengapa kau bangun megah perasaan dalam sukmaku.

"Aku bukan Rahwana"

0 komentar:

Posting Komentar