Sabtu, 15 Juni 2019

Ketua umum PD IPM kota Jambi mengajak masyarakat untuk tidak menyebar luaskan Vidio asusila yang meresahkan masyarakat


Media sosial semakin mendapat peran di kehidupan masyarakat. Keberadaannya telah memberi efek yang sangat besar dari segi komunikasi global. Hampir semua orang dari berbagai lapisan masyarakat memiliki sekaligus menggunakan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Blog, Path, LinkedIn, Youtube, dan sebagainya. Perkembangan media sosial pun ikut mengubah perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari hari.
Beberapa hari belakangan ini media sosial khusus di kerinci dan sungai penuh dihebohkan oleh video yang kurang mendidik yang sempat menghebohkan branda jejaringan sosial facebook netter kerinci dan sungai penuh.
Ketua umum Pimpinan daerah ikatan pelajar Muhammadiyah kota Jambi Anggi Manda putra sangat menyayangkan peristiwa itu terjadi
Dimana Vido itu sudah tersebar di media sosial , dimana tidak hanya orang tua yang menggunakan media sosial ,tetapi juga pelajar yang masih belum mendapatkan pendidikan tentang hal-hal tabu.
"Saya sangat menyayangkan ini terjadi di hari peringatan media sosial yang jatuh pada tanggal 10 Juni, sabagaimana kita ketahui
Penggunakan media sosial cukup transparan dan terbuka ini membuat para remaja Dengan leluasa mengakses konten-konten Yang berbau pornografi, selain itu juga media sosial akan membuat anak dan remaja lebih mementingkan diri sendiri.
Seharusnya peran media sosial bagi pelajar adalah sebagai sarana bersosialisasi untuk membangun komunitas belajar
Oleh sebab itu saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak  menyebarkan videonya lg bagi yg sdh mendapatkan atau melihat nya, sebelum menambah keresahan masyarakat.
Mari serahkan kasus ini kepada yg berwenang

Read More

Senin, 17 September 2018

BEM mati suri

Macetnya Pemilihan presiden mahasiswa  di STMIK nurdinhamzah tampaknya mulai dirasakan Mahasiswa yang aktif di Organisasi. Pasalnya, sistem dan dinamika Kampus tak berjalan baik. Meskipun pada tahun-tahun sebelumnya mengalami kemoloran, namun sejak beberapa tahun ini begitu parah.

Untuk diketahui, pemilihan Presiden Mahasiswa terakhir dilangsungkan tahun 2013 lalu. Padahal letak demokrasi mahasiswa menentukan Pemimpin Kampus melalui pemilihan presiden.

Sebelumnya, dimana pesta demokrasi akan dilaksanakan untuk mahasiswa dan sudah dirancang sedemikan rupa, dari pembentukan Komisi Pemilihan Umum (KPU), di kampus , namun tak kunjung juga dilaksanakan Pemilihan tersebut.

Sudah hampir 5 tahun terakhir ini, sejak Pemilu  sebelumnya tak juga terlaksana. Apakah tahun ini Pemilu juga tidak dilaksanakan? Mahasiswa juga ikut kebingungan kenapa tidak dilaksanakan Pemilu? Sudah terpapang lebar spanduk bahwa Pemilu akan dilaksanakan awal Agustus kemarin.

Entah karena alasan apa, spandukpun dilepas “Mungkin Mereka Malu Terhadap Dirinya Sendiri,” bahkan sampai menyambut Mahasiswa Baru tahun akademik 2018/2019 belum juga dilakukan Pemira.

Menurut aturan, seharusnya Pemilu dilakukan setahun sekali untuk menggantikan Presiden dan jajarannya dalam Pesta Demokrasi Mahasiswa.

Apakah pesta demokrasi akan hilang di Kampus ungu ini? Selain itu, dilihat dari kawan-kawan Mahasiswa tidak ada pergerakan nyata dari KPU untuk melaksanakan Pemilu.

Mahasiswa seharusnya memegang kendali untuk mengawal jalannya pesta demokrasi di Kampus. Apakah Mahasiswa yang hidup di Zaman Minenial seperti sekarang ini, acu dan apatis terhadap kehidupan Kampus?

Peran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) merupakan Perwakilan dari seluruh Mahasiswa ketika melihat tidak adanya keadilan di dalam Kampus. Ketika mahasiswa ingin menyampaikan keluhan dan aspirasinya, kepada siapa mereka ngadu, agar suara-suara mereka didengar oleh pihak rektorat

. Presiden BEM merupakan penyambung lidah bagi mahasiswa. Kampus STMIK saat ini, kondisinya pincang sebelah bahwa tidak bisa bergerak sama sekali atau lumpuh. Selain menunggu tanpa ada kepastian dari KPU. Hal ini menjadi kondisi yang sangat mengkwatirkan bagi mahasiswa yang belajar di Perguruan Tinggi Swasta Terbesar di Kota Jambi.

Apakah kita diam ketika situasi sudah seperti ini? Apa Mahasiswa hanya seperti Siswa yang hanya belajar, bermain mencari kesenangan diri sendiri tanpa melihat situasi kondisi yang sangat memprihatinkan ini. Bukannya mahasiswa itu kaum intelektual yang berpikir tentang suatu berubahan lebih baik.

Mahasiswa bisa dibilang bagian penting untuk memperjuangkan rakyat, karena mahasiswa bagian sentral dengan idealisme dan belum ternodai oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan. Jangan berpikir mahasiswa hanya belajar dalam ruangan yang sempit, tanpa melihat kondisi yang mengkwatirkan saat ini.
Read More

Rabu, 18 Juli 2018

Perjalanan ini


Aku tak mengerti mengapa kita harus berjumpa. Dari sekian banyak orang mengapa harus Engkau yang kujumpai? Suatu perjumpaan yang menyimpan rindu dan gelora asmara dalam dada. Aku adalah pribadi yang otonom, berdiri dengan kekuatan sendiri di tanah perantauan, meski Aku sadar Aku tak pernah sendiri. Kepribadian yang selalu otonom membuat banyak orang yang menilai diriku sebagai orang yang keras-kepala. Kendati demikian, kehadiranku yang real tak pernah lepas dari persoalan, aneka ragam permasalahan selalu datang menghapiriku. Semua itu ku hadapi dengan penuh senyuman dan penuh semangat, sebab Aku percaya tak ada cobaan yang hadir tanpa adanya hikmah. Terkadang ketidakberdayaan memjemputku hingga membuatku harus menjerit ingin menyerah. Kendati demikian, Aku tetaplah Aku, dengan segala yang dianugerahkan oleh Sang Penguasa, Aku bukan Engkau, bukan juga Dia.


Aku tak dapat menegasikan diri dari pengalaman perjumpaanku dengan pribadi yang Aku sebut Engkau. Engkau itu ternyata lain dari yang lain yang pernah Aku temui. Engkau menebarkan pesonamu membuatku terpesona hingga menarik diriku ke dalam cintanmu. Namun Aku masih tetap sadar bahwa Aku bukan orang yang mudah Engkau taklukkan. Aku sadar jika Aku sudah mempunyai daya pikat, sehingga kala Engkau mengungkapkan sebongkah nada hatimu, kusambut dengan ketulusan dan sucinya hatiku. Awalnya memang Aku belum mengerti apa yang ada diantara kita. Aku mencoba menelusurinya lebih jauh lagi. Hingga Aku menemukan rasa yang teramat sulit untuk ku ungkapkan. Rasa itu melekat pada diriku. Aku berpikir dan merasa bahwa kita tidak boleh berpisah. Namun, kenyataan berkata lain,  Engkau dan Aku memiliki perbedaan yang tak mungkin disatuhkan. Kadang Aku berpikir mungkin perbedaanlah yang membuat kita saling memikat. Kadang juga aku bertanya, dapatkah perbedaan ini menyatukan dua hati menjadi satu? Ataukah justru sebaliknya, perbedaan ini memaksakan kita memilih untuk berpisah? Serentetan pertanyaan berkecamuk dalam jiwaku, membuat Aku sulit untuk mengambil keputusan, Aku terus bergulat dengan pikiranku sendiri antara menolak atau meneruskan cinta yang tengah bersemi dalam hati.


Pada suatu kesempatan pernah kuputuskan untuk meninggalkan Engkau dan Aku pun mencoba untuk melepaskan diri dari keterikatan batinku padanmu. Aku sadar bahwa keputusanku adalah sebuah keterpaksaan. Semuanya karena didominasi oleh rasa religiositas pribadi serta pengaruh suara oleh suara lingkungan tempat Aku memijakkan kaki. Aku takut dinilai keliru meski nuraniku berbisik bahwa itu bukan kesalahan. Aku tak tahu harus bagaimana lagi selain mengambil keputusan untuk meninggalkanmu walaupun jiwaku bergulat sesak.


Situasi itu mengajakku ingin membuka kisah baru. Membuka lembaran baru yang menjauhkan pikiranku dari rasa religositas.  Dan kini Aku menjalin kasih dengan pribadi yang kusebut Dia. Dia menaruh minat dan perhatian padaku. Hari-hari kulalui bersamanya. Namun, tak dapat kuberbohong pada diriku, rasanya Dia tak terlalu mendapat tempat di hatiku walaupun Dia dan Aku mempunyai persamaan keyakinan. Dia hanyalah sebagai daerah pelimpahan rasa kangenku pada pribadi yang kusebut Engakau. Aku sendiri tak dapat mengingkari kenyataan itu. Sesungguhnya Aku memiliki rasa rinduku pada sosok yang ku sebut Engkau dan betapa aku ingin kembali kepada pelukannya. Tapi aku bingung, entah harus bagaimana? Meninggalkan Dia yang sekarang, berarti hanya menambahkan luka dalam hatinya. Kembali kepada Engkau yang dulu, yang pernah aku tinggalkan artinya aku harus rendah hati untuk mengungkapkan maaf. Muncul pertanyaan baru, apakah Engkau masih menerima Aku kembali? Ahhh, Biarlah waktu yang beretorika.


Kini aku hidup dalam angan-angan, wacana pengandaianpun kubuka. Seandainya Engkau tidak menerimaku kembali, mungkin Aku harus bersikap realistis meski berat rasanya. Tetapi seandainya Engkau menerimaku kembali Aku tentu bersyukur. Namun, apakah Aku harus meninggalkan rasa religiositas pribadiku dan menikati rasa religiositasmu agar kita sekeyakinan, sepaham dan sekonsep? Bila kuputskan hal itu berarti Aku harus menanggung cercaan dan hinaan dari seluruh kerabat keluarga, kalaupun kita tetap mempertahankan keyaknan kita masing-masing, apakah seluruh keluarga dan lingkungan menerima keputusan kita? Persoalan religiositas adalah persoalan yang sangat sensitif.


Seandainya Tuhan punya kehendak lain dimana kita dapat bersatu dan tak ada lagi yang sanggup memisahkan kita, itu berarti kita membangun institusi baru yang orang sebut keluarga.  Namun bagaimana dengan religiositas anak-anak kita nanti? Pendidikan apa yang akan kita suguhkan ke mereka? Memang kebanyakan orang dalam masyarakat tradisional di Asia dan Afrika, Agama menjadi dasar pijakan dalam pendidikan. Kenyataan juga menunjukkan bahwa benih kejahatan seperti terorisme banyak dihasilkan oleh bangsa-bangsa Asia yang dinilai sebagai benua yang menghasilkan agama-agama besar di dunia ini. Aku memang mempunyai  keyakinan bahwa setiap agama mengajarkan tentang kebaikan. Dan dalam setiap agama tentu berbeda. Dalam pengamatan, agama untuk konteks masyarakat dimana Aku berada adaalah agama keturunan yang artinya agama yang diwariskan oleh orangtua kepada anak-anaknya.


Lantas agama apa yang akan kita wariskan kepada anak-anak kita kelak mereka lahir?  Nurani berbisik, ego setiap pribadi harus ditinggalkan, artinya tak ada pemaksaan kehendak terutama pada saat anak beranjak dewasa. Keputusan bebas seorang anak harus dihargai. Saling memberikan pemahaman tanpa berpretensi menghina atau meremehkan agama yang lain mesti punya tempat yang luas. Orang yang hidup dalam cinta pasti memiliki jalan menuju  kebahagiaan atau kebaikan bersama, atau dalam bahasa latin yang sering disebut sebagai bonum commune. Disini agama mesti bersifat inklusif bukan eksklusif, konsep ini tentu harus menjadi konsep dan komitment bersama.


Aku sadar, ini bukanlah hal yang mudah. Keteguhan mental spiritual diandalkan dan wawasan luas yang kokoh dipertaruhkan. Entah Aku sanggup atau tidaknya biarlah waktu yang menjawab semuanya. Tentu Aku juga tidak bisa terus menrus hidup dalam dunia pengandaian dengan aneka pertanyaan yang penuh dengan dilematis. Aku harus berani memulai. Sebab, perjalanan yang jauh sekalipun tetap dimulai dengan sebuah langkah. Aku mesti mencoba kembali dan menjalin relasi untuk saling mengenal lebih jauh sebelum mengambil keputusan final. Jika ini kehendak Tuhan, pasti ia akan bertahan, jika tidak, lambat laun ia akan berakhir dengan sendirinya. Ya... jalani aja hidup ini dengan kesetiaan. Setiap kesalahan mengandung janji kemenangan dan setiap kegagalan selalu mengandeng kesuksesan
Read More

Senin, 14 Mei 2018

Perang melawan terorisme

Beberapa tahun belakangan ini perang melawan teroris gencar dilakukan.sponsor utama dalam memerangi teroris adalah Amerika. Perang ini dianggap perang suci, bahkan G.bush mengatakan pasca runtuhnya gedung WTC " ini merupakan perang salib-3" . Berbagai program dilakukan untuk menindaklanjuti aksi terorisme, bisa juga untuk mengantisipasi teroris. Pada bulan mei 2011 yang lalu mantan presiden Amerika serikat Obama mengumumkan terbunuh nya Osama bin Laden, teroris Nomor Wahid.
Bukan hanya Amerika yang dibuat kocar kacir oleh para teroris , negara dengan penduduk mayoritas muslim juga kelabakan. Bom Bali satu bom dan di Surabaya pada waktu belakangan ini mencerminkan adanya sasaran dan basis teroris di Indonesia, atas nama ketentraman Dunia, Indonesia kemudian melakukan kerja sama dengan Amerika dan Australia , dan hasilnya adalah densus 88 anti teror.
Namun apa yang dilakukan AS dan negara lainnya hanya sebuah kosong Tampa ada isinya. Sehingga menimbulkan pertanyaan. Benarkah aksi terorisme berasal dari kalangan yang paham agama??
Terorisme secara bahasa mengandung dua kata, yakni "teror" dan isme". Teror merupakan Tindakan yang menakut nakuti , sedangkan isme merupakan sebuah paham. Kalau kita simpulkan menjadi sebuah paham untuk menakut-nakuti. Sekarang kita bertanya lebih jauh, adakah istilah menakut nakuti dalam Islam?? Selama ini teroris diidentikan dengan Islam. Padahal istilah terorisme tidak pernah ada dalam Al-Qur'an dan hadits.
Hanya karena nama Islam kemudian diintrogasi . Kejadian ini sangat menyakitkan bagi umat Islam, namun kita sebagai muslim hanya tinggal diam, memandang hal yang sama terhadap tindakan teroris. Secara langsung AS menganggap konsepsi jihad sama Dengan teror. Perlu ada tinjauan dan kajian lebih jauh. Bukan hanya karena membaca sepihak lalu mengambil kesimpulan.
Pernahkah mereka bertanya pada ahlinya??
Dalam surah Ali Imran [3];142 menjelaskan bahwa pembuktian seseorang manusia yang sabar dalam menjalani kehidupan merupakan bentuk jihad yang sesungguhnya. Antara sabar dan jihad memiliki korelasi dalam pembuktian diri sebagai seseorang muslim .
Terkadang kita tersesat dalam sebuah belenggu teori konspirasi, terjebak dalam pengaruh barat. Tampa kita sadari malah mengikis keimanan kita.
Terorisme tidak pernah ada dalam Islam, konsep terorisme bertolak belakang dengan konsep jihad. Terorisme tumbuh dan berkembang bukan oleh kalangan Islam tapi di budayakan oleh sebuah kepentingan.
Read More

Kamis, 22 Maret 2018

Aku bukan Rahwana


Dalam cerita ini Rangga  adalah Penjahat. Rama adalah pahlawan.

Karena saya percaya bahwa manusia itu punya dua sisi (tidak ada yang sepenuhnya hitam, tidak ada yang sepenuhnya putih), coba sekarang kita melihat dari sisi Rangga atau dari sisi orang lain yang kita tak bisa melihatnya.

Disini akan ku ceritakan tentang Rangga yang mencintai Sefty

Pada tahun 1987, Rangga hanya mencintai satu wanita, Dewi purna sari namanya. Hingga kemudian sang dewi meninggal dan kemudian menitis ke sefty Dewi purna. Rasa di hati Rangga selalu tersimpan utuh. Hingga akhirnya sang waktu mempertemukannya dengan Sifty , yang sayangnya sudah menjadi istri Rama, seorang pemuda atlit petarung yang memenangi sayembara yang di lakukan ayah sefty.

Melihat cinta sejatinya sudah menjadi milik orang lain, Rangga tinggal punya dua pilihan: merelakannya atau merebutnya dengan taruhan apa pun, bahkan nyawa. Dan, Rangga  memilih pilihan kedua.

Sifty  pun diculiknya (bagaaikan kisah sri Rama dan Sinta ) dan dibawa pulang ke daerah paling jauh yang tak dikenal oleh rama. Selama tiga tahun disekap, Sefty diperlakukan bak ratu oleh Rangga Meski dia bisa memaksa atau bahkan memperkosa Sefty, Rangga tak pernah mau melakukannya. Rangga  tahu, cinta sejati tak butuh dipaksa.

Dia pun tak pernah menyentuhnya. Menunggu. Menunggu adalah hal terbaik agar sang dewi tak terluka hatinya. Agar sang dewi mencintainya sepenuh hati. Suatu saat nanti. Entah kapan. Padahal dia tahu benar bahwa titisan Dewi purnama Sari itu terlahir begitu setia pada suaminya.


Setiap hari Ranggamendatangi Sefty dengan beragam puisi. Dia selalu minta maaf karena telah menculiknya. Semua itu dilakukan semata mata karena cinta dan ingin menjadikan Sefty sebagai satu-satunya istri terkasih. Namun, Sefty selalu menolak.

Rangga selalu yakin Apapun yang datang dari hati, pasti sampai ke hati. Sekejam apa pun Rangga ketulusannya pelan-pelan dirasakan oleh Sefty. Selama dirinya di ditahan, Rangga berubah menjadi baik dan murah senyum sehingga mengubah suasana rumah menjadi baik pula dan penuh kedamaian. Sefty mulai tergoda tapi di sisi lain dia tak mau mengkhianati suaminya. Namun, hingga hampir tiga tahun lamanya, kenapa Rama tak kunjung juga menyelamatkannya? Apakah suaminya sudah tak mencintainya lagi?

“Duhai wanita terkasih, kamulah satu-satunya wanita yang terpatri di tulang dan tercetak di jantung. Aku siap mati untukmu,” kata Rangga penuh harap kepada Sefty.
Sefty menjawab, "Jujur. Aku sebenarnya juga mencintaimu. Kamu selalu memperlakukanku dengan baik. Tapi aku juga tak mau menghianati cinta suamiku. Jika kamu mencintaiku, tolong relakanlah aku dan kembalikanlah aku kepada suamiku."

Kata-kata Sefty ibarat mantra yang menyihir Rangga. Sebab, selama hidupnya, hanya kata-kata itulah yang dinanti. “Baik, jika itu maumu, sebagai ksatria, aku akan berduel satu lawan satu dengan Rama. Jika dia bisa mengalahkanku, maka aku akan mengembalikanmu kepadanya,” tegas Rangga.

Ketika Rama datang dengan gagah berani, Rangga menyambutnya dengan kata-kata . “Aku mencintai Sefty, Rama! Aku akan melakukan apa pun untuknya. Aku benar-benar mencintainya, bukan sepertimu yang menikahinya hanya karena berhasil memenangkan sayembara. Semua perbuatanku yang kau sebut ‘mengacau’ sebenarnya adalah usahaku dalam rangka mendapatkan kembali Sefty.


Singkat kata, pertarungan pun terjadilah. Dan Rama berhasil mengalahkan Rangga dan membunuhnya. Sefty yang cantik pun kembali jadi miliknya.
Sefty senang bukan kepalang. Dia lari menghambur ke pelukan Rama. Namun, sambutan Rama justru mengagetkannya. Rama curiga, jangan-jangan Sefty telah dinodai Rangga.

Berkali-kali Sefty menjelaskan bahwa dirinya masih suci. Rangga tidak sekali pun pernah menyentuhnya. Tapi Rama tak juga percaya.

Tinggal kemudian sukma Rangga yang menangis sejadinya karena nestapa cinta. Kenapa takdir tidak memilihnya? Andai dia ikut perlombaan yang diadakan oleh ayah sefty, niscaya Sefty menjadi miliknya. Pasalnya, kesaktian Rama masih jauh di bawahnya. Kenapa pula Sefty memilih pria yang tidak mempercayainya 100 persen? Sementara bagi Rangga, Sefty ternoda atau tidak, dia tetap akan mencintainya.

Sefti tersedu pilu melihat Rangga karna sudah tak ada lagi di dunia yang ditempati nya, tak menghirupkan lagi udara yang di hirupnya..
Sosok yang mencintainya Tampa tapi..

Ya Tuhan ..
Jika cinta ku kepada Sefty terlarang..
Mengapa kau bangun megah perasaan dalam sukmaku.

"Aku bukan Rahwana"

Read More

Selasa, 26 Desember 2017

Stasiun kereta ukhti wanita bercadar

Di hari Minggu ini aku berangkat dari stasiun pasar Minggu menuju Karawang.. pagi ini aku ingin bersilaturahmi bersama keluarga ku yang berada d Karawang..
Ting Ning nong Ning nong.. suara alarm dari stasiun bahwa kereta mau berhenti , tuuuuutttttt tuuuuutttttt dari arah kejauhan kereta datang menghampiri stasiun..
Di sebrang rel aku melihat sosok perempuan yang berjilbab panjang yang membelakangi ku.. sosok perempuan yang misterius bagi ku..
Belum sempat aku melihat wajah nya keretapun datang.
. tapi sayang kereta yang datang bukanlah kereta tujuan ku..
Setelah penumpang semua masuk petugas stasiun membunyikan peluit yang sangat khas.. puiiiiiiiiiiitttt .. kereta pun berangkat..
Aku terkejut setelah kerta berangkat , ternyata perempuan itu masih berdiri di seberang rel kereta .. dan semakin terkejut lah aku melihatnya.. ternyata wanita ini bercadar..
Semenjak saat itu obsesi ku terhadap wanita bercadar semakin tinggi.. rasa penasaran yang  tinggi , ingin melihat wajah yang di balik sehelai kain itu..
Akhirnya keretaku datang ..
Aku segera naik kereta agar dapat tempat duduk.. tapi sayang kereta nya sudah penuh , akupun terpaksa harus berdiri.. sedikit obsesi ku berkurang akibat rebutan kursi..
Dan pada saat itu aku percaya akan takdir.. tidak disangka sangka ternyata perempuan itu tepat berada di belakang ku..
Hati ku berdebar-debar..
Aduhhhh dia di belakang ku lagi.. aku harus gimana ya..
Seperti pendekar yang sedang bertarung.. aku mempersiapkan jurus jurus pamungkas..
Ku beranikan tubuh ini menghadap ke belakang..
Saat aku menghadap kebelakang .. mata ku langsung menghadap ke mata wanita yang bercadar itu.. sedikit ku mencuri pandangan ke arah matanya .. sungguh indah matanya .. tak dapat ku gambarkan keindahan bola matanya..
Sepasang bola mata ku mengintip
Mengintai
Tak kuasa berkedip
Tak kuasa menolak pesonanya
Kedua mata ku terlalu sibuk mengaguminya
Sampai tak sadar waktu berlari begitu cepat..
Saat berdesakkan ku ambil pena dalam tas ku
Menari dengan lincah pena diatas nya
Menyebarkan kalimat pujian , kekaguman ..
Sepasang bola mata menyiratkan harapan akan puisi untuk sepasang bola matai lainnya..
Aku tak berani menyapa mu
Aku tak berani menegur mu..
Sampai pertemuan ini .. kutulis dalam tulisan berbentuk sair dan puisi.. dan jikalau kita berjodoh aku berjanji akan memberikan puisi ini sebagai modus untuk berkenalan dengan mu..
Tuuuuuu ttttt tuuuuutttttt.. pemberhentian ku sudah sampai .. selamat tinggal wanita bercadar..
Kutulis perjalanan ku dengan tinta emas
"Ukhti wanita bercadar"
Selamat jalan
Read More

Jumat, 08 Desember 2017

Suara desissan kipas angin


Suara desisan kipas angin itu selalu setia menemaniku setiap waktu. Diantara alunan musik melankolis yang mungkin jadi favoritku, aku seringkali tertegun dan merenungi apa yang tengah terjadi terhadap diriku ini. Sudah
berulang kali aku mencari jawab atas pertanyaan yang belum bisa ku jawab sampai saat ini.
Tentang cita, cinta, harapan dan semuanya. Aku bimbang dan tak berdaya saat harus berfikir semuanya.
Jika cinta memang bisa memberikan ketenangan dan kedamaian, mengapa aku tak pernah bisa mendapatkannya. Aku selalu takut untuk kembali memulai kisah itu meski sebenarnya hati ini sangat ingin memiliki, meraih dan merengkuh arti sebuah cinta yang tulus. Mengapa aku hanya harus puas melihat mereka bercinta dengan indah dan mesranya, apakah yang salah dengan diri ini?
Jika sebuah cita masih bisa menghantarkan diri ini untuk menemui sebuah cinta, atau mungkin sebatas memandangnya
dari jauh, lalu kenapa cita ini justru malah kian memudar dalam keinginanku menjalani dan menapaki masa depanku yang kian tak menentu. Semakin dalam aku berfikir akan cinta dan cita, semakin bingung aku dibuatnya. Begitu banyak insan yang terjerat cinta dalam segala hal, terjebak dalam kerangka cinta yang terkadang salah dan bertolak belakang, namun kenapa masih saja mereka merasa bahagia dibuatnya?
Aku bingung sebenarnya kenapa dengan diriku. Aku hanya bisa memandang cinta berlalu didepanku, tak berusaha untuk menyapanya meski barang sejenak, aku hanya bisa tertunduk malu jika dia melintas tepat dihadapku. Tak ada keberanian dan hanya rasa takut dan segan yang selalu kurasakan.
Seandainya harapan ini sangat besar untuk bisa meraih cinta, mungkin aku bisa seperti yang lain,namun hati ini terlampau kecil untuk bisa mengakui keberadaan cinta itu sendiri. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan diri ini?
Sahabat…
Aku tak pernah tahu kepada siapa harus kulayangkan perasaan hati ini?
Saat aku merasakan kesepian, hanya kesendirian yang kerap menemaniku. Dalam gelap malam dan sunyinya suasana malam, aku seolah merasa tenang dan damai. Disini aku hanya sendiri dan tak ada yang menemaniku. Ingin aku berbagi dengan seseorang, tapi siapa?
Apakah mungkin hati ini harus terus menjalani penderitaan dalam kesepian dan kesendirian yang mendalam sepanjang hayat?
Entahlah…tak ada yang mau mengerti dengan diriku. Aku tersenyum tapi hati ini sakit. Aku berusaha tertawa demi menyenangkan mereka semua, tapi tak pernah terfikir oleh mereka, apa yang sedang berkecamuk dalam hati ini. Terkadang aku merasa bahwa mereka terlalu egois dan ingin menang sendiri.
Tapi sudahlah, tak kan pernah ada yang bisa mengerti dengan diri ini. Yang mereka tahu aku selalu tertawa gembira dan senang, menjalani kehidupan ini dengan apa adanya, santai dan sebagainya. Tanpa pernah tahu perasaan yang sebenarnya atas diriku. Sakit…hidup dalam kesendirian dan kesepian yang mendalam bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalani. Berkawan kesunyian bukanlah hal yang indah dalam jiwaku. Berjalan dalam keremangan hidup diantara suratan takdir yang carut marut bukanlah hal yang aku inginkan. Namun lorong itu yang menunjukkan jalan bagiku untuk menelusuri jalan berliku yang tak ku tahu kemana ujungnya.
Berkali-kali aku harus menjalani hidup yang tak kunjung memberiku ketenangan meski barang sejenak. Tak pernah memberiku kesempatan untuk tersenyum walau hanya sesaat.
Aku ingin tidur dalam sebuah pelukan hangat dari jiwa yang telah hilang. Aku ingin berbaring dalam rangkulan rasa yang begitu tulus menyayangi diri ini. Aku ingin bersandar diantara pundak harapan yang ingin kubangun kembali. Tapi semuanya hanyalah sebuah keinginan semua dalam mimpi yang tak pernah bisa berwujud. Sekali lagi aku harus tertunduk menekuk wajahku dalam-dalam.
Aku menekur diri dalam sebuah irama kehidupan yang semakin samar. Diantara sorak sorai kegembiraan yang tak pernah bisa kunikmati. Meski aku mencoba masuk diantara kebahagiaan itu. Namun semuanya bukan duniaku, meski kucoba memaksa berada di dalamnya.
Read More