Senin, 25 September 2017

Rindu dan kecewa di sekepal tanah surga

Jika surat Umar bin Khathab mampu membuat sungai Nil kembali mengalirkan airnya dengan ijin Allah Ta’ala. Sungguh aku pun menulis surat hampir sama untuk sekepal tanah surga.

Berlembar-lembar hari kulalui tanpamu. Tanpa kebersamaan yang pernah ada antara kau dan aku. Ketika suka dan duka melebur jadi satu. Keduanya mencipta kenangan yang tak mudah tergerus oleh waktu.

Ada rasa yang tak seharusnya ada, ia bernama rindu. Yang terlanjur tersulam karena keadaan tak lagi mengizinkan kita berjalan berdampingan. Ada ribuan kilo jarak yang membentang tak main-main. Dan kita tahu persis akan hal itu.

Jalan ini terasa semakin terjal dan sulit untuk didaki. Tak jarang kesadaran bahwa melanjutkan semuanya hanya akan menghabiskan waktu, dan melukai diri masing-masing, datang bertamu. Namun ketika keyakinan itu kembali muncul begitu kuat, ia selalu sanggup mengusir berbagai keraguan yang singgah di pintu hati.

Cinta yang memerlukan lima huruf ajaib yang bisa merubah segala hal. Karena cinta apapun akan menjadi terlihat lebih indah , namun ketika benci semuanya dapat berubah seketika menjadi tidak lagi menarik. "Benci tapi rindu" merupakan dua buah kata yang tidak akan bisa untuk dipisahkan didalam hubungan percintaan. Dua buah kata itu merupakan kata yang akan menghiasi perjalanan kisah dari cinta. 

Masa yang terus berganti, menjadikan semua semakin lama tak berjumpa. Siang malam tanpa kebersamaan tentulah memupuk rindu yang tak berkesudahan. Berharap waktu berlalu segera agar dapat bernostalgia melunasi rindu yang kian berbunga. Harapan tak seindah kenyataan, setiap keinginan bisa jadi akan berwujud sangat jauh dari bayangan. Jika semua itu memang benar adanya maka siapkan hati yang lebih lapang untuk menghadapi semuanya.

Saat pengorbanan sia sia pasti akan merasakan kekecewaan yang amat dalam. Betapa Aku Kecewa Karena Cinta dan Pengorbanan. Tidak semua harapan akan cinta terwujud. Keinginan untuk bersatu terpatahkan oleh keadaan. Bila Seorang yang sangat mencintaimu akhirnya pergi berlalu. Begitu pula keadaan sebaliknya. Kau sangat mencintainya, namun kekuatan cinta tak sekuat batu karang. Awalnya begitu sayang, rasa terdepak dan menjadi benci yang berujung. Bencilah aku ... tapi jangan kau benci cintaku ... betapa aku sangat merana dan sangat merindukanmu.

Tapi Maaf apabila suatu saat nanti aku harus membencimu, aku hanya butuh waktu untuk menanagkan diriku sendiri.

Karna sabar, aku sakit..
Karna setia aku kecewa..
Karna rindu aku menangis..
Karna cinta aku trluka...
Dan karna sayang aku brtahan..

Namum sampai saat ini rindu selalu lebih kuat dari pada kekecewaan .

-goresan tangan bujang alus-

0 komentar:

Posting Komentar