Macetnya Pemilihan presiden mahasiswa di STMIK nurdinhamzah tampaknya mulai dirasakan Mahasiswa yang aktif di Organisasi. Pasalnya, sistem dan dinamika Kampus tak berjalan baik. Meskipun pada tahun-tahun sebelumnya mengalami kemoloran, namun sejak beberapa tahun ini begitu parah.
Untuk diketahui, pemilihan Presiden Mahasiswa terakhir dilangsungkan tahun 2013 lalu. Padahal letak demokrasi mahasiswa menentukan Pemimpin Kampus melalui pemilihan presiden.
Sebelumnya, dimana pesta demokrasi akan dilaksanakan untuk mahasiswa dan sudah dirancang sedemikan rupa, dari pembentukan Komisi Pemilihan Umum (KPU), di kampus , namun tak kunjung juga dilaksanakan Pemilihan tersebut.
Sudah hampir 5 tahun terakhir ini, sejak Pemilu sebelumnya tak juga terlaksana. Apakah tahun ini Pemilu juga tidak dilaksanakan? Mahasiswa juga ikut kebingungan kenapa tidak dilaksanakan Pemilu? Sudah terpapang lebar spanduk bahwa Pemilu akan dilaksanakan awal Agustus kemarin.
Entah karena alasan apa, spandukpun dilepas “Mungkin Mereka Malu Terhadap Dirinya Sendiri,” bahkan sampai menyambut Mahasiswa Baru tahun akademik 2018/2019 belum juga dilakukan Pemira.
Menurut aturan, seharusnya Pemilu dilakukan setahun sekali untuk menggantikan Presiden dan jajarannya dalam Pesta Demokrasi Mahasiswa.
Apakah pesta demokrasi akan hilang di Kampus ungu ini? Selain itu, dilihat dari kawan-kawan Mahasiswa tidak ada pergerakan nyata dari KPU untuk melaksanakan Pemilu.
Mahasiswa seharusnya memegang kendali untuk mengawal jalannya pesta demokrasi di Kampus. Apakah Mahasiswa yang hidup di Zaman Minenial seperti sekarang ini, acu dan apatis terhadap kehidupan Kampus?
Peran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) merupakan Perwakilan dari seluruh Mahasiswa ketika melihat tidak adanya keadilan di dalam Kampus. Ketika mahasiswa ingin menyampaikan keluhan dan aspirasinya, kepada siapa mereka ngadu, agar suara-suara mereka didengar oleh pihak rektorat
. Presiden BEM merupakan penyambung lidah bagi mahasiswa. Kampus STMIK saat ini, kondisinya pincang sebelah bahwa tidak bisa bergerak sama sekali atau lumpuh. Selain menunggu tanpa ada kepastian dari KPU. Hal ini menjadi kondisi yang sangat mengkwatirkan bagi mahasiswa yang belajar di Perguruan Tinggi Swasta Terbesar di Kota Jambi.
Apakah kita diam ketika situasi sudah seperti ini? Apa Mahasiswa hanya seperti Siswa yang hanya belajar, bermain mencari kesenangan diri sendiri tanpa melihat situasi kondisi yang sangat memprihatinkan ini. Bukannya mahasiswa itu kaum intelektual yang berpikir tentang suatu berubahan lebih baik.
Mahasiswa bisa dibilang bagian penting untuk memperjuangkan rakyat, karena mahasiswa bagian sentral dengan idealisme dan belum ternodai oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan. Jangan berpikir mahasiswa hanya belajar dalam ruangan yang sempit, tanpa melihat kondisi yang mengkwatirkan saat ini.