Selasa, 26 Desember 2017

Stasiun kereta ukhti wanita bercadar

Di hari Minggu ini aku berangkat dari stasiun pasar Minggu menuju Karawang.. pagi ini aku ingin bersilaturahmi bersama keluarga ku yang berada d Karawang..
Ting Ning nong Ning nong.. suara alarm dari stasiun bahwa kereta mau berhenti , tuuuuutttttt tuuuuutttttt dari arah kejauhan kereta datang menghampiri stasiun..
Di sebrang rel aku melihat sosok perempuan yang berjilbab panjang yang membelakangi ku.. sosok perempuan yang misterius bagi ku..
Belum sempat aku melihat wajah nya keretapun datang.
. tapi sayang kereta yang datang bukanlah kereta tujuan ku..
Setelah penumpang semua masuk petugas stasiun membunyikan peluit yang sangat khas.. puiiiiiiiiiiitttt .. kereta pun berangkat..
Aku terkejut setelah kerta berangkat , ternyata perempuan itu masih berdiri di seberang rel kereta .. dan semakin terkejut lah aku melihatnya.. ternyata wanita ini bercadar..
Semenjak saat itu obsesi ku terhadap wanita bercadar semakin tinggi.. rasa penasaran yang  tinggi , ingin melihat wajah yang di balik sehelai kain itu..
Akhirnya keretaku datang ..
Aku segera naik kereta agar dapat tempat duduk.. tapi sayang kereta nya sudah penuh , akupun terpaksa harus berdiri.. sedikit obsesi ku berkurang akibat rebutan kursi..
Dan pada saat itu aku percaya akan takdir.. tidak disangka sangka ternyata perempuan itu tepat berada di belakang ku..
Hati ku berdebar-debar..
Aduhhhh dia di belakang ku lagi.. aku harus gimana ya..
Seperti pendekar yang sedang bertarung.. aku mempersiapkan jurus jurus pamungkas..
Ku beranikan tubuh ini menghadap ke belakang..
Saat aku menghadap kebelakang .. mata ku langsung menghadap ke mata wanita yang bercadar itu.. sedikit ku mencuri pandangan ke arah matanya .. sungguh indah matanya .. tak dapat ku gambarkan keindahan bola matanya..
Sepasang bola mata ku mengintip
Mengintai
Tak kuasa berkedip
Tak kuasa menolak pesonanya
Kedua mata ku terlalu sibuk mengaguminya
Sampai tak sadar waktu berlari begitu cepat..
Saat berdesakkan ku ambil pena dalam tas ku
Menari dengan lincah pena diatas nya
Menyebarkan kalimat pujian , kekaguman ..
Sepasang bola mata menyiratkan harapan akan puisi untuk sepasang bola matai lainnya..
Aku tak berani menyapa mu
Aku tak berani menegur mu..
Sampai pertemuan ini .. kutulis dalam tulisan berbentuk sair dan puisi.. dan jikalau kita berjodoh aku berjanji akan memberikan puisi ini sebagai modus untuk berkenalan dengan mu..
Tuuuuuu ttttt tuuuuutttttt.. pemberhentian ku sudah sampai .. selamat tinggal wanita bercadar..
Kutulis perjalanan ku dengan tinta emas
"Ukhti wanita bercadar"
Selamat jalan
Read More

Jumat, 08 Desember 2017

Suara desissan kipas angin


Suara desisan kipas angin itu selalu setia menemaniku setiap waktu. Diantara alunan musik melankolis yang mungkin jadi favoritku, aku seringkali tertegun dan merenungi apa yang tengah terjadi terhadap diriku ini. Sudah
berulang kali aku mencari jawab atas pertanyaan yang belum bisa ku jawab sampai saat ini.
Tentang cita, cinta, harapan dan semuanya. Aku bimbang dan tak berdaya saat harus berfikir semuanya.
Jika cinta memang bisa memberikan ketenangan dan kedamaian, mengapa aku tak pernah bisa mendapatkannya. Aku selalu takut untuk kembali memulai kisah itu meski sebenarnya hati ini sangat ingin memiliki, meraih dan merengkuh arti sebuah cinta yang tulus. Mengapa aku hanya harus puas melihat mereka bercinta dengan indah dan mesranya, apakah yang salah dengan diri ini?
Jika sebuah cita masih bisa menghantarkan diri ini untuk menemui sebuah cinta, atau mungkin sebatas memandangnya
dari jauh, lalu kenapa cita ini justru malah kian memudar dalam keinginanku menjalani dan menapaki masa depanku yang kian tak menentu. Semakin dalam aku berfikir akan cinta dan cita, semakin bingung aku dibuatnya. Begitu banyak insan yang terjerat cinta dalam segala hal, terjebak dalam kerangka cinta yang terkadang salah dan bertolak belakang, namun kenapa masih saja mereka merasa bahagia dibuatnya?
Aku bingung sebenarnya kenapa dengan diriku. Aku hanya bisa memandang cinta berlalu didepanku, tak berusaha untuk menyapanya meski barang sejenak, aku hanya bisa tertunduk malu jika dia melintas tepat dihadapku. Tak ada keberanian dan hanya rasa takut dan segan yang selalu kurasakan.
Seandainya harapan ini sangat besar untuk bisa meraih cinta, mungkin aku bisa seperti yang lain,namun hati ini terlampau kecil untuk bisa mengakui keberadaan cinta itu sendiri. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan diri ini?
Sahabat…
Aku tak pernah tahu kepada siapa harus kulayangkan perasaan hati ini?
Saat aku merasakan kesepian, hanya kesendirian yang kerap menemaniku. Dalam gelap malam dan sunyinya suasana malam, aku seolah merasa tenang dan damai. Disini aku hanya sendiri dan tak ada yang menemaniku. Ingin aku berbagi dengan seseorang, tapi siapa?
Apakah mungkin hati ini harus terus menjalani penderitaan dalam kesepian dan kesendirian yang mendalam sepanjang hayat?
Entahlah…tak ada yang mau mengerti dengan diriku. Aku tersenyum tapi hati ini sakit. Aku berusaha tertawa demi menyenangkan mereka semua, tapi tak pernah terfikir oleh mereka, apa yang sedang berkecamuk dalam hati ini. Terkadang aku merasa bahwa mereka terlalu egois dan ingin menang sendiri.
Tapi sudahlah, tak kan pernah ada yang bisa mengerti dengan diri ini. Yang mereka tahu aku selalu tertawa gembira dan senang, menjalani kehidupan ini dengan apa adanya, santai dan sebagainya. Tanpa pernah tahu perasaan yang sebenarnya atas diriku. Sakit…hidup dalam kesendirian dan kesepian yang mendalam bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalani. Berkawan kesunyian bukanlah hal yang indah dalam jiwaku. Berjalan dalam keremangan hidup diantara suratan takdir yang carut marut bukanlah hal yang aku inginkan. Namun lorong itu yang menunjukkan jalan bagiku untuk menelusuri jalan berliku yang tak ku tahu kemana ujungnya.
Berkali-kali aku harus menjalani hidup yang tak kunjung memberiku ketenangan meski barang sejenak. Tak pernah memberiku kesempatan untuk tersenyum walau hanya sesaat.
Aku ingin tidur dalam sebuah pelukan hangat dari jiwa yang telah hilang. Aku ingin berbaring dalam rangkulan rasa yang begitu tulus menyayangi diri ini. Aku ingin bersandar diantara pundak harapan yang ingin kubangun kembali. Tapi semuanya hanyalah sebuah keinginan semua dalam mimpi yang tak pernah bisa berwujud. Sekali lagi aku harus tertunduk menekuk wajahku dalam-dalam.
Aku menekur diri dalam sebuah irama kehidupan yang semakin samar. Diantara sorak sorai kegembiraan yang tak pernah bisa kunikmati. Meski aku mencoba masuk diantara kebahagiaan itu. Namun semuanya bukan duniaku, meski kucoba memaksa berada di dalamnya.
Read More